Benarkah kebijakan tingkat bunga dapat mengobati Inflasi ? (Sebuah catatan kritis terhadap Fisher Equation Theory)

Berbagai kalangan moneteris meyakini bahwa instrumen kebijakan tingkat bunga (discount Policy) dapat dipergunakan sebagai alat untuk meredam laju inflasi dalam sebuah perekonomian. Hal ini ditampakkan dalam mekanisme : ”Jika tingkat bunga ditingkatkan, maka kecenderungan masyarakat meningkatkan jumlah tabungannya di lembaga keuangan perbankan, sehingga jumlah uang beredar akan menurun. Penurunan jumlah uang beredar dianggap sebagai faktor penyebab menurunnya tingkat inflasi dalam perekonomian”.
Mengamati mekanisme di atas, terdapat kecenderungan bahwa masyarakat memiliki refleksi yang tinggi terhadap perubahan tingkat bunga, serta diangpap bahwa masyarakat memiliki alternatif penggunaan uang yang ditujukan untuk memperoleh keuntungan (apakah ditanamkan dalam bentuk investasi, atau ditabungkan untuk memperoleh penghasilan bunga).
Apabila kebijakan tingkat bunga di atas diterapkan di negara berkembang seperti Indonesia yang sebagian besar pendapatan masyarakatnya hanya cukup untuk konsumsi dasarnya saja, bahkan tidak memadai untuk keperluan perumahan, kesehatan dan pendidikan, maka tidak akan efektif atau malah menjadi faktor yang semakin menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat.
Selayaknya negara-negara berkembang menelaah ulang kebijakan tingkat bunga diterapkan dalam perekonomiannya, sebab :
1.kepekaan masyarakat terhadap perubahan tingkat bunga sebagai alternatif penggunaan uangnya untuk memperoleh keuntungan sangat kecil, bahkan tidak peka. Hal ini disebabkan karena masyarakat tidak memiliki cukup dana untuk akses ke lembaga keuangan perbankan maupun melakukan pembelian saham/obligasi. Kecenderungan masyarakat lebih mempergunakan bank sebagai sumber dana bagi kelangsungan hidupnya melalui pinjaman konsumtif (kredit konsumtif).
2.Kondisi masyarakat seperti tersebut di atas, akan merasakan dampak negatif dari peningkatan tingkat bunga (berupa penurunan daya beli), sehingga kebijakan peningkatan tingkat bunga yang diarahkan untuk menurunkan laju inflasi, malah berdampak kepada penurunan kesejahteraan masyarakat, sebab biaya hidup meningkat dengan adanya beban bunga yang naik (jumlah pembayaran bunga bank meningkat).
3.Masyarakat lainnya yang terkena imbas negatif dari kebijakan peningkatan tingkat bunga adalah produsen/pengusaha. Bunga bagi mereka merupakan biaya, sehingga peningkatan tingkat bunga berarti peningkatan biaya produksi. Kondisi ini akan berdampak kepada perubahan struktur biaya perusahaan, sehingga kebijakan peningkatan harga jual barang yang diproduksinya merupakan keniscayaan. Kondisi ini menjadi faradoks bagi tujuan kebujakan peningkatan tingkat bunga sebagai alat penurun laju inflasi. Bahkan kebijakan peningkatan tingkat bunga menjadi faktor penyebab meningkatnya harga barang di pasar (laju inflasi semakin meningkat).

Ketiga kondisi perekonomian negara berkembang di atas mengisyaratkan, bahwa kebijakan tingkat bunga tidak efektif sebagai alat untuk meningkatkan daya beli masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bahkan kebijakan peningkatan tingkat bunga di negara berkembang berdampak kepada peningkatan biaya hidup masyarakat yang memiliki pinjaman bank, serta semakin meningkatkan kesulitan hidup sebab harga barang meningkat akibat perusahaan mengeluarkan kebijakan peningkatan harga barang untuk menutupi biaya bunga. Kecenderungan lan dari peningkatan tingkat bunga adalah terjadinya pemanfaatan oleh masyarakat negara lain yang tingkat pendapatannya tinggi untuk memperoleh pendapatan bunga, keadaan ini semakin ironis seharusnya masyarakat dalam negeri yang memperoleh keuntungan namun ternyata keuntungan dinikmati oleh masyarakat negara lain, atau hanya oleh orang kaya dinegara berkembang tersebut. ”Jangan lupa orang kaya yang memperoleh pendapatan bunga sesungguhnya bersumber dari orang miskin yang melakukan kredit bank untuk keperluan hidup sehari-hari”.
Memperhatikan hal tersebut di atas ternyata kebijakan tingkat bunga merupakan alat persemaian keuntungan bagi sebagian kecil penduduk negara berkembang (orang kaya), dan masyarakat negara lain, serta sedang menuai kesengsaraan dan penurunan kesejahteraan mayoritas penduduk negara tersebut.
Kebijakan tingkat bunga pada akhirnya menjadi faktor utama lahirnya ketidak merataan distribusi pendapatan dalam perekonomian, selama disuatu negara masih terdapat kesenjangan sosial. Kebijakan tingkat bunga merupakan identitas kapitalisme borjuis, sebab tingkat bunga hanya termanfaatkan oleh orang-orang yang memilki kelebihan dana, serta tingkat bunga sebagai alat efektif untuk memeras masyarakat yang tergantung kepada kredit perbankan untuk memenuhi kelangsungan kehidupan ekonominya.
Diskusi kami untuk menghindarkan diri dari jebakan kebijakan tingkat bunga yang berdampak kepada penurunan daya beli masyarakat, serta sebagai faktor penentu terjadinya ketidakmerataan distribusi pendapatan, adalah :
1.Sebaiknya masyarakat mencari lembaga keuangan yang tidak mempergunakan tingkat bunga untuk melakukan aktivitas keuangannya, serta pilih lembaga keuangan syari’ah yang memproduksi jasa keuangan dengan model profit sharing, serta lembaga keuangan syari’ah yang tidak mengeluarkan jasa pembiayaan konsumtif, sebab jasa pembiayaan konsumtif pada lembaga keuangan syari’ah mecerminkan lembaga syari’ah tersebut tidak konsisten dengan model profit sharing (bukankah model profit sharing hanya berlaku untuk pemiayaan produktif).
2.Perlu peningkatan kualitas pengelolaan Zakat, Infak dan Shodaqoh, yang pengelolaannya dilakukan oleh negara (tidak diserahkan kepada pengelola swasta), sebab amanat Undang-undang dan syari’ah mengharuskan fakir miskin, anak-anak telantar dipelihara dan disejahterakan oleh negara. Sehingga masyarakat miskin tidak lagi terjerumuskan oleh kesesatan bunga, namun memperoleh kontribusi peningkatan kesejahteraan oleh negaranya melalui lembaga ZIS.
3.Para pengusaha sebaiknya memilih sumberdana dari lembaga keuangan syari’ah yang melakukan model pofit sharing, sehinga struktur biaya perusahaan dapat direncanakan sebelumnya, dan terhindar dari fluktuasi tingkat bunga yang susah diprediksi dan menyesatkan. Demikian pula perusahaan dapat memberika kontribusi kesejahteraan kepada masyarakat melaui kebijaka penentuan harga jual yang terjangkau oleh seluruh lapisan konsumen, sehingga pengusaha menjadi para syuhada yang memperjuangkan kebutuhan hidup masyarakat yang terjamin dari langkah-langkah sesat.
4.Pemerintah berusaha untuk memutuskan kemungkinan sumberdana dan kekayaan negara mengalir ke luar negeri, sementara masyarakat dalam negeri sangat memerlukannya. Upaya tersebut dialkukan melalui operasional lembaga keuangan syari’ah yang lebih merata diberbagai kota/kabupaten da kecamatan diseluruh pelosok negeri, sebab melalui operasional lembaga keuangan syari’ah (bank syariah, pasar modal syari’ah, asuransi syari’ah, dll) perusahaan yang melakukan kerjasama diketahui jenis usahanya, serta identitas perusahaannya, sehingga terhindar pembiayaan dialirkan kepada pengusaha barang haram, maupun pengusaha yang bergerak dibidang yang akan merugikan perekonoman bangsa dan pelarian modal ke luar negeri.
5.Membangun kesadaran kepada masyarakat secara dini tentang kemadharatan tingkat bunga dalam perekonomian, melalui sekolah-sekolah, dan memberika pengetahuan kewirausahaan berbasis syari’ah di sekolah-sekolah (SMP, SMU) agar mereka mahir beradaptasi dengan kondisi perekonomian yang menyehatkan kehidupan.
6.Untuk kelancaran aktivitas perekonomian daerah sampai tingkat kecamatan/pedesaan, maka diperlukan pembangunan pasar kecamatan/desa serta pembangunan lembaga keuangan non bunga diwilayah tersebut, agar distribusi dan alokasi barang menjadi lancar, serta produsen/pengusaha kecil daerah tidak terjebak oleh praktik ijon dan rentenir, demikian pula masyarakat pengusaha desa/kecamatan dapat menikmati kerjasama keuangan dengan lembaga keuangan non bunga tersebut. Keberadaan pasar desa/kecamatan dan lembaga keuangan non bunga di daerah tersebut diharapkan dapat menekan laju perkembangan mart yang tidak berbasis ekonomi rakyat dan meningkatkan gairah wirausaha masyarakat sebab ketersediaan pasar hasil produksinya tersedia dekat dan terhindar dari tingginya biaya transfortasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: