JANGAN JADIKAN ANAK BANGSA SEBAGAI PEMBANTU DI NEGERI SENDIRI

Kekhawatiran dan kecemasan merasuki alam pikiran saya, ketika memperhatikan sistem pendidikan nasional, dimana sistem pendidikan yang tengah berjalan menghasilkan sumberdaya lulusan yang mengantri menjadi calon tenaga kerja, yang pada akhirnya tercipta pengangguran ketika jumlah lapangan kerja lambat mengantisipasinya.

Sistem pendidikan nasional ternyata tidak menyediakan ruang yang cukup bagi lulusan SMA untuk meningkatkan darajat keilmuannya, sebab ternyata biaya kuliah yang begitu tinggi sehingga tidak dapat dijangkau oleh masyarakat yang berpenghasilan menengah kebawah, jikalau harus memaksakan maka pinjaman melalui perbankan dengan tingkat bunga yang relatif tinggi menjadi alternatif, sehingga mengorbankan tingkat kesejahteraan keluarga. Namun kenyataan ini masih menyisakan sejumlah lulusan SMA yang tidak dapat mengakses Perguruan tinggi disebabkan tidak terdapat kemampuan untuk melakukannya.

Jumlah pengangguran lulusan SMA sebesar 3 812 522 orang (data statistik Indonesia Agustus 2008), menunjukan bahwa mereka tidak dapat akses ke perguruan tinggi serta tidak dapat terserap oleh lapangan kerja. Pada kondisi krisis ekonomi saat ini dimana sektor produksi melambat pertumbuhannya, bahkan dibeberapa budang usaha mengalami kemunduran dan penghentian produksi, maka akan tercipta jumlah pengangguran yang lebih banyak.

Adapun masyarakat yang dapat akses ke perguruan tinggi ternyata melahirkan kecemasan baru berupa ketimpangan yang besar antara perkembangan jumlah lulusan dengan perkembangan jumlah lapangan kerja, sehingga melahirkan pengangguran yang cukup besar dari para sarjana yakni Jumlah sebesar  598 318 orang (data statistik Indonesia Agustus 2008).

Sembarang saya berpikir, barangkali persoalan ini disebabkan karena pengembangan kurikulum berorientasi pasar kerja, sehingga keilmuan yang disajikan dalam kurikulum merupakan paket ilmu pengetahuan yang diadopsi dari kebutuhan perusahaan, bukan dari kebutuhan pembangunan ilmu pengetahuan dimasa yang akan datang, sehingga terlahir motivasi lulusan menjadi tenaga kerja karena pengembangan kurikulum di atas. Ditambah dengan klasifikasi kualitas perguruan tinggi dari badan akreditasi yang menekankan bahwa lulusan PT yang banyak terserap dilapangan kerja menjadi perguruan tinggi yang berkualitas.

Ketika lapangan kerja terkena imbas krisis atau lapangan kerja (perusahaan ) melakukan ekspansi baik dalam teknologi maupun sistem operasionalnya, maka akan berdampak kepada perombakan kurikulum, dan pada ahirnya lulusan yang terlambat beradaptasi dengan kurikulum baru menjadi penganggur potensial dimasa depan. Sungguh sangat ironis ketika dunia pendidikan bukan menjadi sumber pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat dimanfaatkan bagi pengembangan perusahaan, tetapi sebaliknya menjadi penyedia tenaga kerja bagi perusahaan, sehingga lembaga pendidikan merupakan lembaga training tenaga kerja suatu perusahaan.

Layaklah apabila kurikulum sekolah dan perguruan tinggi dibangun berdasarkan kebutuhan pengembangan pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi masa depan, sehingga kurikulum sekolah dan PT menjawab persoalan masa depan, diantaranya menjawab kemungkinan peningkatan jumlah pengangguran dimasa depan, atau mempersiapkan generasi bangsa sebagai entrepreneur bukan sebagai pegawai atau buruh. (Apakah kita tidak prihatin menyaksikan putra putri bangsa menjadi pelayan toko-toko persh asing, atau jadi buruh persh asing, bahkan menjadi pembantu rumah tangga padahal mereka lulusan SMA ?).

Urun rembuk kami dalam menciptakan generasi entrepreneur adalah :

  1. Lahirkan undang-undang yang mewajibkan seluruh sekolah maupun PT memiliki perpustakaan yang lengkap sesuai dengan kebutuhan pengembangan ilmu pengetahuan yang berbasis masa depan.
  2. Lahirkan undang-undang yang mewajibkan seluruh sekolah maupun PT memiliki laboratorium praktika yang memenuhi kebutuhan pengembangan ilmu dan pengetahuan praktik untuk mempersiapkan siswa/mahasiswa mengenal implementasi keilmuan untuk dikembangkan dimasyarakat.
  3. Koreksi kembali peraturan batas nilai UN yang hanya mengapresiasi daya hapal siswa, namun lebih kepada daya kreasi siswa/mahasiswa dalam mengembangan ilmu pengetahuan (penemuan baru, kreasi baru, daya inovasi)
  4. Khusus untuk sekolah menengah atas yang berkontribusi besar bagi meningkatnya jumlah pengangguran di negeri ini,   setiap SMU harus memiliki koperasi sekolah yang dijadikan sebagai laboratorium inkubasi bisnis siswa, sehingga setiap siswa yang memiliki kreasi dapat memanfaatkan koperasi untuk mengenalkan hasil kreasinya dan koperasipun dijadikan wahana pasar hasil kreasi siswa. Setiap koperasi sekolah yang ada dilingkungan dinas pendidikan kabupaten/kota melakukan kerjasama pengenalan hasil kreasi siswa SMU se kabupaten/kota tersebut, sehingga seluruh siswa SMU menjadi pelaku usaha sekaligus sebagai potensi pasar mereka. Pemerintah kabupaten/Kota senantiasa memberikan ruang untuk ekspo hasil kreasi siswa disetiap pasar modern yang ada di Kota /Kab tersebut atau di pasar pasar lainnya, dan setiap sekolah melakukan kerjasama dengan institusi yang menyediakan teknologi terkait dengan hasil karya siswa.
  5. Setiap perguruan tinggi wajib memiliki laboratorium entrepreneur berbentuk inkubasi bisnis untuk meningkatkan daya kreasi dan inovasi mahasiswa, dimana inkubasi bisnis tersebut dikerjasamakan dengan lembaga pengembangan dan lembaga penelitian, sehingga pengembangan entrepreneur mahasiswa beradaptasi dengan hasil penelitian terbaru.

Urun rembuk di atas ditujukan agar siswa SMU yang tidak dapat akses ke perguruan tinggi, memiliki bekal untuk melakukan aktivitas mandiri dimasyarakat (menjadi entrepreneur/pelaku usaha), demikian pula dengan mahasiswa terbiasa melakukan kerjasama dengan lembaga maupun institusi dalam melakukan aktivitas usahanya, dan mereka tidak bergantung kepada ketersediaan lapangan usaha, namun menjadi pelaku usaha.

Semoga……..

( sumber : http://bwfitri.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: