Model Persaingan Usaha Modern Penyebab Inefisiensi Perekonomian Dunia

Dunia usaha pada masa milenia ini dihantui oleh berbagai teori yang mengedepankan konsep persaingan usaha yang menghilangkan nilai-nilai kerjasama antar manusia, sekaligus menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan yang hakiki. Model persaingan usaha dikembangkan lebih banyak kepada pembunuhan saingan usaha, hal ini disebabkan oleh tokoh-tokoh/ahli marketing menawarkan teori perang dalam membangun teori marketingnnya.
Dampak teori tersebut sesungguhnya telah membangun sistem monopoli perdagangan yang sangat jahat, sehingga berbagai upaya penghancuran karakter pengusaha pesaing selalu diutamakan, bahkan produk-produk yang menghancurkan sebuah inovasi dari pesaing senantiasa dikobarkan (contoh : pembuatan virus komputer, serta hal lain yang dengan sengaja untuk menenggelamkan pesaing dari dunia persaingan usaha).
Maksud sebuah strategi marketing pada akhirnya diarahkan agar konsumen berpihak kepada perusahaan miliknya, sehingga keuntungan usaha diperoleh maksimal meskipun terdapat kerugian ekonomi bagi perekonomian sebuah Negara maupun perekonomian dunia.
Persaingan usaha yang ditujukan untuk memenangkan persaingan usaha, menimbulkan dampak terjadinya pengangguran sumberdaya, artinya semakin sedikit perusahaan yang menang dalam persaingan usaha maka semakin banyak jumlah pengangguran tenaga kerja yang bekerja pada perusahaan yang kalah bersaing, demikian pula halnya dengan sumberdaya lainnya (menurunnya pengunaan modal, serta pengangguran sumberdaya alam).
Tidak optimalnya pengunaan sumberdaya untuk produktivitas ekonomi suatu bangsa, berakibat buruk terhadap pertumbuhan produksi nasional yang pada akhirnya akan berimbas kepada penurunan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan
Indonesia yang sejak awal kemerdekaannya mengutamakan prinsip kekeluargaan dan persaudaraan dalam koridor perekonomian koperatif (koperasi), sebenarnya sejak awal telah menolak bentuk-benuk persaingan usaha model strategi perang, sebab melalui koperasi, persaingan usaha berubah menjadi kerjasama usaha. Keutamaan kerjasama usaha akan menggiring perusahaan lain sebagai pesaing menjadi mitra usaha, sehingga diantara pengusaha terdapat jalinan kerjasama untuk meningkatkan penggunaan teknologi, meningkatkan efisiensi produksi , serta optimalisasi pengunaan sumberdaya. Semakin banyak jumlah produk yang dapat dibuat dan berkualitas, pada akhirnya konsumen akan memperoleh kesejahteraan dalam pengunaan hasil produksinya, serta mampu meningkatkan daya beli masyarakat, karena harga komoditas relatif lebih murah pada saat proses produksi telah efisien. Bukankah para pengusaha merupakan konsumen dari pengusaha lainnya ?, maka sebuah kerjasama usaha akan meningkatkan efisiensi penggunaan bahan baku yang mendorong kepada tingginya perolehan keuntungan usaha, serta terdapat kontinuitas permintaan dari konsumen yang daya belinya tinggi.
Gejala rendahnya pertumbuhan jumlah pengusaha Indonesia serta rendahnya tingkat kreativitas, dan inovasi dalam negeri, lebih disebabkan oleh penerapan teori persaingan usaha model strategi perang. Penggunaan teori ini sangat disukai oleh perusahaan besar dan perusahaan asing di Indonesia dalam upaya mencapai tingkat monopolistik yang tinggi bagi usahanya, demi pencapaian profit yang sangat tinggi. Tingkat efisiensi perusahaan besar dan perusahaan asing lebih tinggi dibandingkan dengan pengusaha lainnya, khususnya pengusaha menengah dan kecil, sehinga ketika pengusaha kecil dan menengah melakukan inovasi teknologi untuk menghasilkan komoditas, akan kalah bersaing oleh perusahaan tersebut. Demikian pula halnya dengan generasi muda dan penduduk lainnya yang akan memasuki dunia usaha, mereka sudah kalah bersaing dalam kondisi persaingan usaha yang menyeramkan ini, sehingga generasi muda menggeser motivasi menjadi pengusaha berubah menjadi pekerja, karyawan, maupun buruh pada perusahaan lain maupun menjadi PNS.
Kebijakan perlindungan terhadap pengusaha dalam negeri dan proteksi terhadap generasi muda Indonesia yang berkeinginan menjadi pengusaha serta menjadi komunitas generasi muda kreatif dan inovatif sangat diperlukan. Keberpihakan terhadap pengusaha dalam negeri yang mengutamakan kerjasama usaha (bukan persaingan usaha) perlu ditingkatkan. Bentuk-bentuk kebijakan tersebut akan menggiring perusahaan-perusahaan yang sudah terbiasa bersaing dengan model persaingan saling membunuh, menjadi perusahaan yang mengajak perusahaan lain untuk bermitra dan bersama-sama meningkatkan efisiensi produksi, sekaligus bersama-sama meningkatkan kualitas hasil produksi. Perlindungan tersebut mempengaruhi pula pola-pola monopsoni yang dilaukan perusahaan dagang yang merugikan produsen. Kasus monopsoni banyak terjadi pada produsen daerah yang melakukan penjualan di kota lain (biasanya kota besar), dan konsumen biasanya merupakan penampung barang yang senantiasa mengendalikan produsen untuk menjual pada tingkat harga yang tidak rasional dengan strategi mempersaingkan antar produsen daerah tersebut, sehingga dicapai persaingan yang saling membunuh dan merugikan produsen, sementara penampung barang yang jumlahnya sedikit dan terkoordinasi dalam bentuk monopsoni menikmati keuntungan darinya, dan biasanya produk dari daerah tersebut merupakan komoditi potensial ekspor.
Beberapa langkah lain yang perlu dilakukan untuk menghindarkan pengunaan teori marketing yang tidak bermanfaat bagi perekonomian Indonesia dan perekonomian dunia adalah :
1. Memberikan pemahaman yang lengkap tentang teori marketing tersebut di atas kepada mahasiswa dan siswa universitas/sekolah tinggi/sekolah menengah, bahwasanya teori tersebut tidak layak pakai, dan berdampak kepada penurunan kesejahteraan masyarakat, serta menghasilkan rendahnya efisiensi produksi yang mengarah keada penganguran sumberdaya.
2. Kebijakan ekonomi koperasi harus didukung dengan kebijakan moneter, serta kebijakan perdagangan yang mengarah kepada pengembangan kerjasama usaha.
3. Pemerintah mengeluarkan kewajiban terhadap perusahaan asing dan perusahaan besar lainnya untuk meningkatkan produktivitas ekonomi nasional dengan cara meningatkan kerjasama usaha dengan perusahaan dalam negeri, khususnya dengan perusahaan yang membuat barang sejenis, agar dicapai efesiensi produksi nasional, dan perekonomian terhindar dari pengangguran sumberdaya.
4. Meningkatkan efisiensi produksi pengusaha muda Indonesia (infant industry) melalui proteksi terhadap persaingan barang impor yang diproduksi perusahaan luar negeri yang telah mencapai tingkat efisiensi yang tinggi.
Penggunaan model kerjasama usaha dan menghapus model persaingan usaha merupakan langkah menuju kesejahteraan masyarakat ekonomi dunia dan menghindarkan dunia dari pengangguran sumberdaya.

( sumber : http://bwfitri.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: